Revolusi 4.0 dan Pariwisata Indonesia

Seiring berjalannya waktu, Revolusi terus terjadi sesuai dengan tata hidup dan perubahan tingkah laku manusia yang semakin berkembang dari masa ke masa. Hal ini turut merubah pola pikir masyarakat dan mendorong terjadinya Revolusi Industri dengan teknologi manufaktur pada tren otomatisasi yang menanamkan teknologi cerdas untuk terhubung dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Perkembangan ini tentunya membawa dampak besar dalam dunia pariwisata di dunia maupun di Indonesia. Dengan berkembangnya suatu tatanan dan gaya hidup masyarakat maka terjadi pula perkembangan Sumber Daya Manusia yang harus turut mengikuti era baru revolusi sehingga dapat bersaing dalam dunia Global. 

Revolusi 1.0 merupakan Revolusi Industri pertama yang terjadi pada abad ke 18 dengan penemuan mesin uap untuk upaya produktivitas bernilai tinggi. Revolusi 2.0 terjadi pada abad ke 19-20  dengan penemuan penggunaan listrik yang membuat biaya produksi semakin murah. Revolusi 3.0 terjadi pada abad ke 20 dengan penemuan penggunaan komputerisasi untuk mengontrol produksi barang secara digital. Saat ini sedang berlangsung Revolusi 4.0 yaitu abad ke 21 yang ditandai dengan adanya pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan yang berpotensi meningkatkan kualitas hidup manusia di dunia maupun di Indonesia.

Pendekatan revolusi industri 4.0 pertama kali disampaikan oleh Klaus Schwab dalam tulisannya The Fourth Industrial Revolution. Konsep ini menjelaskan lahirnya revolusi 4.0 yang ditandai dengan adanya perpaduan teknologi sebagai penyebab biasnya batas antara bidang fisik, digital, dan biologis. (Schwab dalam Lee et al., 2018). Tiga hal tersebut, oleh Schwab diidentifikasi masuk sebagai perubahan megatrends di era revolusi industri 4.0 (Schwab, 2016). 

Seluruh perkembangan dan perubahan dari revolusi ini, berujung pada satu kunci yang sama, yaitu melalui pemanfaatan kekuatan digitalisasi atas informasi. Berangkat dari hal tersebut, konvergensi teknologi yang terjadi melalui pemanfaatan digitalisasi atas informasi, diistilahkan sebagai masa internet of things (IoT). Istilah ini diartikan sebagai hubungan antara berbagai jenis hal seperti produk, layanan, tempat, dan sebagainya dengan orang-orang. Hubungan ini terjadi melalui adanya pemanfaatan teknologi atas informasi yang diakses melalui beragam bentuk platform (Schwab, 2016). 

Era IoT, menjadi salah satu penyebab banyaknya pergeseran dalam situasi sosial masyarakat di berbagai sektor penting dunia. Sektor pariwisata salah satunya. Di sektor pariwisata, era IoT berdampak pada munculnya transformasi digital yang menjadi penyebab lahirnya tren tourism 4.0. Tranformasi digital inilah yang mengubah keseluruhan siklus ekosistem kepariwisataan, termasuk menjadi penyebab bergesernya budaya siber dan visual pada wisatawan.

Dampak pergeseran budaya siber yang terlihat dari transformasi digital pada era tourism 4.0, adalah adanya perubahan proses pengambilan keputusan berwisata pada generasi milenial. Tipikal budaya siber yang berfokus pada fenomena social and networking (Manovich dalam Macek, 2014), menjadikan media sosial memiliki peran yang signifikan sebagai sumber rujukan generasi milenial dalam menentukan tujuan berwisata. Melalui reportnya, Kelly menjelaskan, 85% wisatawan di dunia mengakui bahwa komentar, unggahan foto dan video di platform media sosial mempengaruhi rencana berwisata mereka (Kelly dalam Magill, 2017). Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Gelter Hans, dimana media sosial telah menjadi salah satu global megatrend dalam perkembangan digital yang secara signifikan berdampak pada ekosistem pariwisata dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan berwisata (Hans, 2017). 

Generasi milenial, menjadi subjek utama dari pergeseran budaya siber ini. Hal ini disebabkan karena milenial merupakan generasi pertama yang menghabiskan seluruh hidup mereka di lingkungan digital (Bennet, Maton, & Kervin, 2008). Dalam era tourism 4.0, peran generasi milenial menjadi penting, terutama dari sisi penyebaran dan konsumsi informasi di media sosial terkait aktifitas berwisatanya. Pengaruh media sosial terhadap pengambilan keputusan tidak hanya berhenti sampai disini. Dalam skala besar, pergeseran budaya siber, pada akhirnya menyebabkan terjadinya pergeseran budaya visual pada wisatawan. Saat ini wisatawan milenial cenderung untuk berkunjung ke sebuah destinasi yang secara visual menyenangkan. Tujuannya tidak lain adalah untuk dapat mengabadikan moment “selfie“nya. Taking a selfie telah menjadi bagian penting dalam berwisata (Lo and Mckercher, 2015 dalam Magill, 2017). Dari sinilah, muncul konsep pengembangan destinasi digital, dimana sebuah destinasi wisata, sengaja dibuat melalui pendekatan digital dengan konsep selfie spot destination. Dua pengaruh dari munculnya era tourism 4.0 inilah yang menjadikan tulisan ini akan berfokus pada dua bahasan utama. Diantaranya; (1) pergeseran budaya siber di sektor pariwisata Indonesia terkait penggunaan media sosial sebagai tools marketing melalui peran komunitas milenial, dan (2) pergeseran budaya visual wisatawan yang berdampak pada lahirnya destinasi digital di Indonesia.

Era tourism 4.0 merupakan adaptasi dari digitalisasi atas pariwisata yang terjadi sebagai dampak munculnya revolusi industri 4.0. Sektor pariwisata dunia termasuk Indonesia, merespon hal tersebut sebagai konsekwensi dari perubahan ekosistem pariwisata yang semakin mengarah ke digital. Kemenpar selaku stakeholder utama pariwisata Indonesia, berinovasi melalui dua kebijakan. Diantaranya (1) membentuk komunitas milenial untuk mempromosikan pariwisata melalui pendekatan media digital dan (2) mengembangkan destinasi digital, dimana sebuah destinasi dikonsep dengan pendekatan destinasi yang kekinian. Upaya ini telah dilakukan secara sistematis untuk menjangkau pangsa pasar wisatawan milenial sebagai the future tourist. Penetapan target dua kebijakan ini hanya dapat berhasil melalui peran aktif dari stakeholder terkait. Kedua kebijakan ini secara aplikatif telah dilaksanakan. Namun, belum ada langkah substansial untuk mengukur permasalahan yang muncul dari kebijakan tesebut. Hal ini penting dilakukan sebagai bagian dari evaluasi kebijakan. Tersebarnya komunitas dan dikembangkannya destinasi digital diseluruh Indonesia, menjadikan pengidentifikasian masalah perlu dilakukan secara bertahap dan sistematis.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started